TozSugianto

TozSugianto

TozSugianto

Memahami Sejarah Mobil Esemka

Memahami Sejarah Mobil Esemka || Riwayat mobil Esemka bermula pada tahun 2007 silam, di mana kala itu Esemka digagas seorang pemilik bengkel 'Kiat Motor' asal Klaten, Jawa Tengah, bernama Sukiyat. Pria ini membantu anak-anak Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Trucuk 1 Katen membuat mobil dengan tujuan utama untuk menstransfer ilmu. Total setidaknya ada 9 unit prototipe yang dibuat Sukiyat dengan nama Kiat Eesemka.

Bersamaan dengan itu, melalui Program Teaching Factory, Direktorat Pembinaan SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI juga menghasilkan ide  Esemka. Untuk bidang otomotif, ditunjuklah 4 SMK di Jawa Tengah dan 1 SMK di Jawa Timur sebagai perintisnya, yakni SMKN 2 Surakarta, SMKN 5 Surakarta, SMK Warga Surakarta, SMK Muhammadiyah 2 Borobudur Magelang, dan SMKN 1 Singosari Malang.

Tiga SMK di Solo berhasil merancang 5 unit dengan 2 jenis prototipe mobil. Sedangkan dua SMK lainnya juga membuat prototipe, namun tidak didaftarkan ke PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) yang didirikan pada 2010. “SMK Borobudur yang juga membuat prototipe tapi tidak diregistrasikan ke PT Esemka, termasuk SMK Singosari,” ungkap Dwi Budhi Martono, Guru Teknik Otomotif SMKN 2 Surakarta yang menjadi pembimbing proyek mobil Esemka.

Mobil buatan siswa SMK ini kemudian diuji kelayakannya di Jakarta pada 2010, namun tidak berhasil dan dinyatakan belum laik jalan. Dua tahun kemudian atau setelah diputuskan bahwa Esemka akan menjadi mobil dinas wali kota dan wakilnya di Solo, Jokowi meminta agar kendaraan itu kembali diujikan di Jakarta. Hasil pengujian pada 7 Februari 2012 itu kembali gagal. Kementerian Perhubungan kala itu menyebut mobil Esemka belum memenuhi batas emisi gas buang. Mobil Esemka diujikan lagi pada September 2012. Kali ini dinyatakan lulus uji. Akan tetapi, setelah Jokowi memutuskan hengkang ke ibu kota untuk bertarung di Pilkada DKI Jakarta 2012, raung Esemka justru perlahan senyap dan suaranya semakin lamat-lamat.

Meskipun kurang terdengar gaungnya, namun sejatinya Esemka tetap bergerak walau tanpa Joko Widodo. Hingga tahun 2015, ada beberapa propotipe mobil berbagai jenis yang dihasilkan selain Rajawali (SUV) yang sudah diluncurkan sebelumnya dan sempat dipakai Jokowi. Untuk varian pikap, muncul Esemka Bima 1.5 dan Bima 1.1, ada pula Esemka Surya, Esemka Digdaya, Esemka Patua, dan Esemka Borneo yang berjenis mobil double cabin, mini truck, serta mini bus, juga Esemka Zhangaro yang bertipe pikap niaga. Selain Rajawali dan Rajawali R2, Esemka juga punya mobil penumpang dengan wujud yang lebih kecil atau mobil perkotaan, yakni Esemka Hatchback. Seluruh prototipe mobil Esemka ini dihasilkan oleh SMK-SMK yang sebelumnya telah ditunjuk untuk terlibat di proyek teaching factory. Selama 2012 hingga 2015, mobil-mobil Esemka yang berjumlah 200 unit telah tersebar di Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

PT SMK oleh Presiden Joko Widodo dihubungkan dengan PT Adiperkasa Citra Lestari (ACL). Kolaborasi PT Solo Manufaktur Kreasi dan PT Adiperkasa Citra Lestari melahirkan perusahaan baru bernama PT Adiperkasa Citra Esemka Hero (ACEH). Esemka pun mulai menapak level industri dan meninggalkan pihak perintisnya. Demikian diungkapkan Dwi Budhi Martono, Guru Teknik Otomotif SMKN 2 Surakarta yang menjadi pembimbing proyek mobil Esemka.

Perusahaan baru Esemka lantas mendirikan pabrik di Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali. Pada 6 September 2019 lalu, pabrik ini diresmikan langsung oleh Presiden Jokowi kendati pihak Esemka telah menegaskan bahwa produk mereka adalah milik swasta sepenuhnya, tidak untuk mobil nasional.

Demikian sajian informasi mengenai Sejarah Mobil Esemka yang dapat disampaikan pada kesempatan ini. Semoga Bermanfaat !!!

Memahami Masa Jabatan Kepala Sekolah TK SD SMP SMA/SMK

Memahami Masa Jabatan Kepala Sekolah TK SD SMP dan SMA/SMK || Sebagaimana telah diketahui bahwa Pengangkatan dan Pemberhentian Jabatan Kepala Sekolah TK, SD, SMP dan SMA/SMK diatur melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 6 Tahun 2018. Sedangkan khusus mengenai masa penugasan atau Masa Jabatan Kepala Sekolah diatur pada pasal 12  ayat 1 sampai dengan ayat 8. Berikut disajikan intisari dari masing-masing ayat:
  1. Ayat 1 - Penugasan Kepala Sekolah pada satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah dilaksanakan dengan sistem periodisasi.
  2. Ayat 2 - Setiap periode jabatan kepala sekolah dilaksanakan dalam kurun waktu 4 (empat) tahun.
  3. Ayat 3 - Setelah menyelesaikan tugas pada periode pertama, Kepala Sekolah dapat diperpanjang mas tugasnya paling banyak 3 (tiga) kali masa jabatan.
  4. Ayat 4 - Masa jabatan Kepala Sekolah periode pertama pada satuan administrasi pangkalan yang sama paling sedikit 2 (dua) tahun. Dan paling lama 2 (dua) masa jabatan atau 8 (delapan) tahun.
  5. Ayat 5 - Masa jabatan Kepala Sekolah berdasarkan hasil penilaian prestasi kerja dilakukan setiap tahun dengan predikat minimal “Baik”.
  6. Ayat 6 - Jika hasil penilaian prestasi kerja tidak mencapai predikat “Baik”. Maka Kepala Sekolah yang bersangkutan tidak dapat diperpanjang masa tugasnya.
  7. Ayat 7 - Kepala Sekolah yang tidak diperpanjang masa tugasnya ditugaskan kembali sebagai Guru.
  8. Ayat 8 - Penugasan kembali sebagai Guru dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota dengan mempertimbangkan kebutuhan dan jumlah guru.
Oleh sebab itu pada pasal 12 di atas dengan tegas dinjelaskan bahwa Masa Jabatan Kepala Sekolah memiliki batas waktu atau periode. Setiap periode kepemimpinan kepala sekolah adalah 4 tahun dan paling lama masa jabatannya adalah 3 periode atau 12 tahun.

Demikianlah sajian informasi mengenai Masa Jabatan Kepala Sekolah TK SD SMP dan SMA/SMK. Semoga Bermanfaat !!!

Download Modul Diklat SPMI

Download Modul Diklat SPMI  || Sekolah beserta seluruh komponen didalamnya memiliki tanggungjawab dalam penjaminan mutu pendidikan. Penjaminan mutu pendidikan di sekolah tidak dapat berjalan dengan baik tanpa adanya budaya mutu pada seluruh komponen sekolah. Peningkatan mutu secara utuh dalam pelaksanaan penjamina mutu sekolah dibutuhkan pendekatan yang melibatkan seluruh komponen sekolah untuk bersamasama memiliki budaya mutu. Agar penjaminan mutu dapat berjalan dengan baik di segala lapisan pengelolaan pendidikan telah dikembangkan sistem penjaminan mutu pendidikan yang terdiri dari Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) dan Sistem Penjaminan Mutu Eksternal (SPME).


Sistem penjaminan mutu yang berjalan di dalam sekolah dan dijalankan oleh seluruh komponen dalam sekolah disebut sebagai SPMI. SPMI mencakup seluruh aspek penyelenggaraan pendidikan dengan memanfaatkan berbagai sumberdaya untuk mencapai Standar Nasional Pendidikan. Sistem penjaminan mutu ini dievaluasi dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh sekolah dan juga ditetapkan oleh sekolah untuk dituangkan dalam pedoman pengelolaan sekolah serta disosialisasikan kepada pemangku kepentingan sekolah.

Diklat SPMI untuk sekolah model dilaksanakan oleh LPMP dengan melibatkan fasilitator daerah atau tim penjaminan mutu pendidikan dengan pola whole school approach. Pelatihan SPMI dirancang sefleksibel mungkin baik dari sisi materi maupun metode pelatihan sehingga dapat diikuti oleh semua peserta dari berbagai level. Oleh karena itu, ruang lingkup pelatihan tidak hanya tersampaikannya substansi yang harus diterima oleh peserta pelatihan namun juga termasuk keterampilan yang harus dimiliki oleh peserta setelah mengikuti pelatihan untuk menjalankan peran dan fungsi masing-masing dalam penerapan penjaminan mutu internal di sekolah. Modul berikut ini adalah Modul Diklat SPMI, merupakan panduan yang digunakan oleh fasilitator dalam Pelatihan SPMI untuk Kepala Sekolah dan Untuk Fasilitator.

Silahkan Download;
    Modul Diklat SPMI Fasilitator - [klik di sini]
    Modul Diklat SPMI Kepala Sekolah - [klik di sini]

Demikian sajian informasi mengenai Modul Diklat SPMI yang dapat disampaikan. Semoga Bermanfaat !!!

Mengenal Pramuka Prasiaga Bagi Anak Usia PAUD

Mengenal Pramuka Prasiaga Bagi Anak Usia PAUD || Bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke 58 tanggal 14 Agustus 2019, Gerakan Pramuka secara resmi telah mengesahkan Tingkatan Pramuka Prasiaga bagi peserta didik pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebagai tingkatan baru dalam Gerakan Pramuka setelah diujicoba sejak tahun 2010 di Kwartir Daerah Jawa Barat. Pramuka Prasiaga PAUD merupakan salah satu konsep pendidikan yang berfungsi untuk membentuk siswa sebagai manusia Indonesia yang memiliki karakter yang sangat baik diajarkan kepada  anak  sejak mereka berusia anak PAUD yaitu 3-7 tahun. Tingkatan pramuka yang mulanya hanya  empat tingkatan yaitu siaga, penggalang, penegak, dan pembina kini bertambah satu yaitu prasiaga.

Materi Pramuka Prasiaga PAUD yang diberikan untuk pramuka usia dini, berupa materi yang selayaknya diberikan untuk anak PAUD. Akan tetapi dalam hal ini, pemberi materi menyisipkan pengetahuan pramuka secara umum ke dalam materi yang biasa dilakukan. Misalnya sambil bermain  dengan mengajar anak menggambar, bertepuk tangan, bernyanyi, bermain kerjasama, dan media bermain lain yang dapat memperkenalkan anak pada pramuka. Pengenalan Pramuka pada anak usia dini yang meliputi sejumlah model ini ditujukan dalam memenuhi delapan kecerdasan anak usia dini dan perangsangan perkembangan motorik serta perkembangan kognitifi anak usia dini.

Metode pengenalan Pramuka dengan menggunakan lagu tentunya ditujukan untuk merangsang kecerdasan anak usia dini dalam menggunakan Bahasa pada setiap liriknya, merangsang kemampuan anak usia dini dalam menyanyikan lagu dan mendengarkan irama setiap liriknya, kemampuan dalam melakukan gerak tubuh yang dilakukan dengan gerak lagu, selain itu dalam lagu dapat diselipkan pengenalan angka pada lirik lagu.

Pengenalan Pramuka dengan lagu dapat merangsang kecerdasan kognisi anak usia dini yang menirukan lirik lagu-lagu pramuka dan kemudian dapat tertanam pada anak usia dini tentang makna-makna lagu tersebut. Selain itu, perkembangan motorik kasar anak usia dini dapat terlatih ketika mendengarkan dan melakukan gerak lagu. Pengenalan Pramuka dengan menggunakan tepuk dapat merangsang kecerdasan gerak kinestetik anak melalui tepukan tangan yang berirama.

Tepuk Pramuka dapat pula menstimulasi  kecerdasan dalam mengenali angka. Selain itu, metode pengenalan dengan tepuk dapat merangsang perkembangan motorik kasar anak usia dini dan dapat mengembangkan kecerdasan kognitif melalui pola pikir yang statis.

Pengembangan/pembentukan karakter bangsa merupakan fondasi bagi keberlanjutan hidup berbangsa dan bernegara dan harus dilakukan sedini mungkin. Secara empirik, Praja muda karana atau biasa disebut pramuka memiliki pengalaman yang cukup panjang dalam melaksanakan pendidikan karakter melalui pendekatan bermain.

Prasiaga merupakan solusi praktis bagi penyelenggaraan Penguatan Pendidikan Karakter di satuan Pendidikan Anak Usia Dini dan di satuan komunitas Pramuka melalui pendekatan bermain. Hal ini sesuai dengan amanat PP No. 87 tahun 2017 pasal 1 butir 1 yang menyatakan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah gerakan pendidikan di bawah tanggung jawab satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi oleh hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan pendekatan dan kerja sama antara satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat sebagai bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental. Selanjutnya PPK dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab.

Demikian sajian informasi mengenai Pramuka Prasiaga Bagi Anak Usia PAUD yang dapat disampaikan pada kesempatan ini. Semoga Bermanfaat !!!

Inilah 10 Jenis Metode Pembelajaran Pada Kurikulum 2013

Inilah 10 Jenis Metode Pembelajaran Pada Kurikulum 2013 || Metode mengajar merupakan suatu cara atau upaya seorang guru dalam membuat rasa nyaman dan menyenangkan bagi siswanya dalam melakukan proses pembelajaran sehingga mencapai tujuan belajar yang sesuai dengan yang diharapkan. Pembelajaran pada Kurikulum 2013 memfasilitasi peserta didik untuk berperan aktif dan dapat saling berkolaborasi dengan guru dan sesama peserta didik sehingga harus tercipta pembelajaran yang aktif, kreatif dan inovatif. Berikut ini akan dijelaskan 10 jenis metode mengajar yang dapat di gunakan oleh guru, di antaranya yaitu :

1. Presentasi
Pada metode presentasi, guru atau siswa menyebarkan informasi yang dieroleh melalui sumber kelompok kecil. Bentuk integrasi metode presentasi dapat dilihat melalui sejumlah sumber daya teknologi yang digunakan dapat meningkatkan kualitas penyajian informasi. Sebagai contoh siswa dapat menggunakan aplikasi microsoft power point untuk menampilkan hasil rangkuman, hasil tulisan teks dan menyajikan video maupun gambar sekaligus dalam satu tampilan presentasi.

2. Demonstrasi
Pada metode demonstrasi, siswa mempelajari pandangan dari suatu keterampilan atau prosedur yang harus dipelajari. Demonstrasi dapat diterapkan pada seluruh anggota kelas, kelompok kecil, atau individu yang membutuhkan sedikit penjelasan tambahan tentang bagaimana melakukan suatu tugas. Bentuk integrasi metode demonstrasi dapat ditingkatkan melalui penggunaan peralatan teknologi seperti kamera digital. Kamera video digital dapat digunakan untuk merekam demonstrasi selama atau sebelum kelas berlangsung.

3. Drill and Practice
Dengan menggunakan metode Latihan terus menerus dan Praktik dalam kegiatan pembelajaran, Peserta didik diharapkan dapat menyelesaikan latihan -latihan untuk menyegarkan atau meningkatkan kapasitas isi pengetahuan dan keterampilan. Strategi dan praktik harus diikuti umpan balik untuk menguatkan jawaban benar dan memperbaiki jawaban salah yang mungkin dilakukan siswa. Bentuk integrasi dari metode ini dengan penggunaan teknologi adalah banyak aplikasi komputer yang ditawarkan kepada siswa memberikan kesempatan untuk mengingat kembali dan melakukan praktik atas pengetahuan maupun ketrampilannya.

4. Tutorial
Tutorial merupakan metode pembelajaran yang melibatkan siswa bekerjasama dengan orang lain yang lebih ahli. Tutorial dapat di sajikan dalam bentuk perangkat lunak komputer tercetak khusus yang menyajikan konten/isi, mengajukan pertanyaan atau masalah, meminta tanggapan peserta, menganalisis tanggapan, memberikan umpan balik yang sesuai, dan memberikan latihan sampai pelajar menunjukkan tingkat kemandirian yang telah ditentukan. tutorial melibatkan pertukaran ide dan pendapat di antara siswa atau di antara siswa dan guru.

5. Diskusi
Metode diskusi dalam kegiatan pembelajaran dapat di jadikan sebagai sebuah strategi pembelajaran. Diskusi akan efektif bila dilakukan dengan cara mengenalkan topik pembicara yang baru atau lebih mendalam sampai konsep dasar. Integrasi antara metode diskusi dengan teknologi adalah teknologi mendukung diskusi menjadi metode yang dikenal di kelas seperti saat ini seperti metode yang memperluas percakapan di luar kelas.

6. Cooperative Learning
Metode ini adalah siswa dapat belajar tidak hanya berdiskusi masalah materi teks dan menonton media, tapi juga menghasilkan media. Sebagai contoh siswa dapat mendesain dan menghasilkan sebuah podcast, video, atau powerpoint atau prezi presentasi.

7. Problem Based Learning
Menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah, siswa secara aktif akan mencari solusi untuk masalah-masalah terstruktur atau tidak terstruktur yang terletak di dunia nyata. Masalah terstruktur memberikan siswa pemahaman yang jelas tentang apa yang mungkin menjadi jawaban atas permasalahan yang ada. Integrasi dari metode ini dengan teknologi adalah banyaknya aplikasi komputer yang menyediakan dan mendukung pembelajaran berbasis masalah.

8. Games / Permainan
Dalam pembelajaran dengan menggunakan metode Permainan maka guru dapat menyediakan sebuah lingkungan yang kompetitif dimana siswa mengikuti aturan yang ditentukan saat mereka berusaha untuk mencapai tujuan yang menantang dan menghadirkan siswa dengan pemahaman yang jelas tentang apa yang mungkin merupakan jawaban yang tepat.

9. Simulasi
Metode simulasi mengijinkan siswa untuk berada pada situasi nyata. Integrasi dari metode simulasi dengan teknologi adalah kemampuan interpersonal dan percobaan laboratorium pada fisika ilmu pengetahuan alam merupakan contoh subjek simulasi.

10. Discovery / Penemuan
Metode pembelajaran discovery merupakan suatu Strategi dimana siswa di harapkan dapat menemukan hasil pembelajaran yang inovatif. Integrasi dari metode discovery dengan teknologi adalah ada beberapa variasi cara bahwa teknologi instruktusional dan media dapat membantu mengenalkan discovery maupun inkuiri.

Demikian sajian informasi mengenai 10 Jenis Metode Pembelajaran Pada Kurikulum 2013 yang dapat disajikan pada kesempatan ini. Semoga Bermanfaat !!!

Pedoman, Tema dan Logo (revisi) HUT RI 74 Tahun 2019

Pedoman, Tema dan Logo (revisi) HUT RI 74 Tahun 2019 || Pedoman Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Tahun 2019 diterbitkan oleh Sekretariat Negara, dengan surat bernomor B-780/M.Sesneg/Set/TU.00.04/07/2019 bertanggal 23 Juli 2019. Surat tersebut dialamatkan kepada Pimpinan Lembaga-Lembaga Negara, Menteri Kabinet Kerja, Gubernur BI, Jaksa Agung, Panglima TNI, Kapolri, Pimpinan Lembaga-Lembaga Non-kementrian, Pimpinan Lembaga-Lembaga Non-Struktural, Para Kepala Perwakilan RI di Luar Negeri, Gubernur Provinsi di Seluruh Indonesia, dan Bupati dan Walikota di seluruh Indonesia, yang ditandatangani oleh Mensesneg Pratikno.

Pengumuman dari Setneg pada pokoknya adalah:
  1. Tema dan Logo Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Tahun 2019 adalah SDM Unggul Indonesia Maju. Download Logo dan Pedoman Visual - [klik di sini].
  2. Pedoman Pokok Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Tahun 2019 di tingkat Pusat, Penyelenggaraan hendaknya memperhatikan hal berikut; (1) Pada tanggal 16 Agustus 2019 agar masyarakat mengikuti siaran langsung Pidato Kenegaran Presiden RI baik melalui berbagai channel media, (2) Pada tanggal 17 Agustus 2019 agar diselenggarakan upacara bendera terpusat di seluruh Ibukota Provinsi dan Ibukota Kabupaten/Kota disamping upacara bendera di setiap instansi/kesatuan masing-masing. (3) Penyelenggaraan acara peringatan HUT Ke-74 Kemerdekaan RI Tahun 2019 dilaksanakan dengan berlandaskan pada tema dan logo yang sudah ditentukan, dirayakan secara khidmat dan penuh kemeriahan, memperhatikan situasi dan kondisi setempat.
  3. Perwakilan-perwakilan republik Indonesia di luar negeri agar menyesuaikan ketentuan-ketentuan tersebut di atas dan yang bertindak sebagai inspektur upacara adalah duta besar atau kepala perwakilan RI.
Selain itu, Mensesneg juga menerbitkan surat nomor B-685/M.Sesneg/Set/TU.00.04/06/2019 tentang Partisipasi Menyemarakkan Bulan Kemerdekaan menyampaikan tentang keturutsertaan untuk menyemarakkan bulan Agustus sebagai "Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia, antara lain sebagai berikut:
  1. Mengibarkan Bendera Merah Putih serentak dilingkungan Instansi mulai tanggal 1 s.d. 31 Agustus 2019.
  2. Memasang umbul-umbul, dekorasi, atau hiasan lainnya.
  3. Memanfaatkan secara maksimal desain logo HUT Ke-74 Kemerdekaan RI yang dapat diunduh di laman setneg.go.id ke dalam berbagai media (website/media sosial instansi, stiker, kendaran dinas dan kendaraan jemputan, souvenir maupun merchandise instansi, dll.
Download File Lengkap Pedoman Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Tahun 2019 pada tautan berikut:
  1. Surat Edaran Penyempurnaan Tema HUT ke-74 Kemerdekaan RI Tahun 2019 - [klik di sini]
  2. Surat Edaran Partisipasi Menyemarakkan Bulan Kemerdekaan Tahun 2019 - [klik di sini]
  3. Salinan Keputusan Menteri Sekretaris Negara Nomor 174 tahun 2019 - Pembentukan Panitia Pelaksana HUT Ke-74 Kemerdekaan RI Tahun 2019 - [klik di sini]
  4. Pedoman Visual - [klik di sini]
  5. Pedoman Peringatan HUT RI Ke-74 Tahun 2019 - [klik di sini]
Demikian sajian informasi mengenai Pedoman, Tema dan Logo (revisi)  HUT RI 74 Tahun 2019 yang dapat disampaikan. Semoga Bermanfaat !!!
Back To Top
close