Membangun Komunikasi Efektif antara Sekolah/Guru dengan Orang Tua Siswa

Membangun Komunikasi Efektif  antara Sekolah/Guru dengan Orang Tua Siswa || Pembelajaran dan pendidikan di sekolah sebenarnya bukan semata hanya merupakan tanggung jawab guru, melainkan tanggung jawab bersama antara guru dan orang tua siswa. Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak di sekolah akan terlaksana bila telah terbangun komunikasi efektif antara pihak sekolah, dalam hal ini wali kelas dan orang tua siswa. Komunikasi efektif akan terbangun bila wali kelas memiliki inisiatif menyampaikan hal-hal positif kepada orangtua tentang anak di sekolah.

Bila guru menyampaikan ide cara membantu dan mendukung anak-anak, menginformasikan lebih banyak tentang program akademik sekolah dan bagaimana cara kerjanya, maka orang tua akan terdorong untuk terlibat dalam pendidikan anak-anak. Dengan cara ini, orang tua juga akan menjadi lebih percaya diri tentang pentingnya keterlibatan mereka di sekolah.

Ada setidaknya 3 (tiga) topik yang bisa dibangun antara wali kelas dengan orang tua, yakni: Kegiatan belajar kelas, Prestasi anak-anak dan Bagaimana orang tua dapat membantu pembelajaran di rumah.Hal lain yang harus diperhatikan guru bahwa komunikasi akan lebih efektif bila dibangun dua arah.

Peluang untuk komunikasi efektif dua arah antara wali kelas dengan orang tua siswa dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan seperti berikut ini:
  1. Pertemuan orang tua dengan wali kelas
  2. Pembentukan organisasi orang tua - wali kelas
  3. Buku agenda kerja siswa mingguan atau bulanan yang dibawa pulang untuk ditinjau dan dikomentari orang tua
  4. Komunikasi melalui telepon atau kini melalui grup media sosial seperti WA grup kelas
  5. Komunikasi melalui website atau email sekolah
  6. Kunjungan ke rumah siswa
Demikian sajian informasi mengenai Membangun Komunikasi Efektif antara Sekolah/Guru dengan Orang Tua Siswa yang dapat disampaikan pada kesempatan ini.

Semoga Bermanfaat !!!

Memahami Program Guru Keahlian Ganda dan Guru Multi Subyek

Memahami Program Guru Keahlian Ganda dan Guru Multi Subyek || Istilah Guru Keahlian Ganda dan Guru Multi Subyek mencuat setelah dimunculkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam menyikapi kekurangan guru.

Guru Keahlian Ganda dipahami sebagai guru mampu mengampu lebih dari satu mata pelajaran. Program Guru Keahlian Ganda ini diberikan kepada Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) katagori mata pelajaran nonproduktif  yaitu  katagori guru normatif, seperti guru agama; guru adaptif, seperti Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Matematika, Bahasa Inggris dan lain-lain. Guru mata pelajaran katagori nonproduktif tersebut diberikan pelatihan khusus dan disertifikasi untuk menguasai kompetensi mata pelajaran katagori produktif seperti bidang pertanian, pelayaran, mesin, elektronika, pariwisata dan sejenisnya.

Umpamanya, guru Fisika. Kebetulan guru Fisika di sekolah banyak, sehingga kekurangan jam mengajar, sehingga tidak bisa memenuhi kriteria 24 jam mengajar per minggunya untuk bisa mendapatkan tunjangan profesi. Nah, daripada tidak mendapat tunjangan profesi tapi punya minat dan bakat untuk menjadi guru lain selain fisika, guru fisika bisa mengambil mata pelajaran lainmisalnya elektronika. Karena itu, guru harus ikut pelatihan elektronika selama kurang lebih satu tahun yang dibiayai pemerintah. Setelah lulus pelatihan maka guru fisika ikut sertifikasi kedua terkait profesi elektronika tadi. Jadi, selain sertifikat tentang Fisika, maka juga punya sertifikat tentang Elektronika.

Sedangkan Guru Multi Subyek adalah Program yang diberikan kepada Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) mata pelajaran tertentu untuk bisa mengampu mata pelajaran lain yang sejenis.

Pada prinsipnya, Program Guru Keahlian Ganda dan Program Guru Multi Subyek adalah sama, perbedaannya hanyalah terletak pada istilah saja. Guru Keahlian Ganda untuk jenjang SMK dan Guru Multi Subyek untuk jenjang SMP dan SMA.

Sebenarnya, kedua program tersebut sejak dulu sudah dipersiapkan oleh Perguruan Tinggi dengan membuka Program Minor atau Sarjana Kedua. Karena belakangan muncul istilah dan aturan Linier, maka Program Minor dihapuskan. Dengan diluncurkan Program Guru Keahlian Ganda dan Program Guru Multi Subyek, kemungkinan Program Minor di Perguruan Tinggi akan dan harus kembali dihidupkan.

Demikian sajian informasi mengenai Program Guru Keahlian Ganda dan Guru Multi Subyek yang dapat disampaikan pada kesempatan ini.

Semoga Bermanfaat !!!

Harapan Terhadap Literasi Digital Berbasis Teknologi Informasi

Secara bahasa, Literasi adalah Keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca. Literasi mungkin telah menjadi istilah yang familiar bagi banyak orang. Namun tidak banyak dari mereka yang memahami makna dan definisinya secara jelas. Dalam pengertian lain, literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis.


Pemerintah telah meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) untuk dilakukan di seluruh satuan pendidikan. Hanya perlu dipahami oleh kita semua, bahwa literasi ti­dak hanya sekedar pada tata­ran pembiasaan membaca dan menulis saja, tetapi program literasi perlu juga menitik berat­kan pada literasi yang berbasis teknologi informasi. Literasi Digital, yaitu kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti pe­ranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi untuk kegiatan literasi.

Kenapa harus juga menguasai Teknologi Informasi? ... Teknologi informasi dewasa ini menjadi hal yang sangat penting un­tuk mendukung kegiatan pen­didikan. Teknologi Informasi diterapkan guna meningkatkan pengelolaan informasi karena meningkatnya kompleksitas dari tugas manajemen, karena pengaruh informasi internasi­onal (global), dan karena per­lunya waktu tanggap (respons time) yang lebih cepat dalam menyelesaikan masalah atau ke­butuhan administratif.

Literasi digital dapat meningkatkan efisiensi dan efektifiatas pem­belajaran, juga dengan literasi digital dapat me­ningkatkan kreativitas terutama para guru atau pendidik dalam membuat model-model pem­belajaran bagi siswanya. Dan berbagai kegiatan yang sifatnya administraif bagi guru dan siswa akan lebih mudah dikerjakan serta efisien.

Literasi digital pun dapat memberikan gairah baru bagi para pendidik dalam membuat inovasi dan kreativi­tas pembelajaran, tidak hanya berdampak positif bagi pembe­lajaran siswa, tetapi juga akan memberikan pengetahuan pada pendidik dan juga kemudahan dalam memenej berbagai peker­jaan yang berhubungan dengan pembelajaran.

Konsep Literasi Digital akan sejalan dengan gagasan “Sekolah tanpa Ker­tas” atau “School with Paperless” yang pernah dikumandangkan oleh B.J. Habibie. Sejalan dengan itu salah satu organisasi profesi guru yaitu Ikatan Guru Indonesia (IGI) sangat mendukung terciptanya ke arah itu melaui program-program yang diluncurkannya yaitu Menemu Baling atau Program Literasi Berbasis IT dan Sagusatab (satu guru satu tablet) serta program lainnya yang sangat mendukung terciptanya kompetensi guru dan digitalisasi pembelajaran dan pendidikan.

Semua konsep pemikiran yang dilontarkan oleh para praktisi aplikasi literasi digital, penggiat literasi dan pihak-pihak yang turut mendukung terciptanya literasi digital semua akan bermuara pada pemegang kebijakan yang memiliki segala hak untuk menjadikan dunia pendidikan ini hanya tergusur mengikuti arus atau menjadi agen pembaharu. Kelompok-kelompok kecil penggiat literasi digital berbasis IT akan tetap berjalan dan melaju semoga impian klimaks memberikan ruang kepada guru dan siswa yang mau menembus ruang dan waktu dalam pembelajaran dan pendidikan mendapat tempat yang layak untuk berkreasi.

Semoga !!!


by Toto Sugianto
founder of http://tozsugianto.com

Kepentingan Di Balik Dugaan Kebocoran Soal UN/USBN

Kepentingan Di Balik DugaanKebocoran Soal UN/USBN || Penyelenggaraan UN/USBN atau apaun istilahnya, sejak dulu salah satunya kental dengan istilah Penjaminan Keutuhan Soal ketika sampai di Ruang Ujian dengan Kalimat Klasik bahwa Amplop Soal masih Disegel. Proses distribusi dari Percetakan sampai ke Satuan Pendidikan tempat penyelenggaraan ujian dianggap ruang yang paling rawan terjadinya kebocora. Saking dianggap rawannya, proses distribusi tersebut sampai melibatkan pengawalan aparat keamanan bersenjata. Setelah sampai di titik-titik perantara distribusi, keberadaan soalpun dijaga selama 24 jam dengan melibatkan berbagai unsur.

Kadang terasa sedikit berlebihan dan muncul pertanyaan siapa sebenarnya yang diduga berkepentingan untuk “mencuri” soal tersebut. Sejauh ini belum ada temuan penjegalan terhadap soal ujian secara fisik dalam proses distribusi. Akan tetapi dugaan kebocoran soal terjadi setiap tahun walaupun hanya di daerah tertentu, itu yang terdeteksi atau mungkin masih banyak yang tidak terdeteksi. Ketika hasil UN mutlak menjadi penetu kelulusan, tingkat kebocoran diduga sangat tinggi dan relatif berbeda dengan kecenderungan menurun dengan ketika pemerintah menetapkan bahwa hasil UN bukan satu-satunya penentu kelulusan.

Akan tetapi masih ada temuan lain, setelah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan membuat program tertentu untuk mengukur Indeks Integritas Ujian Nasional mendapati kenyataan adanya Pola Jawaban yang seragam yang diperoleh dari Peserta dengan Nomor Ujian yang diduga berada dalam satu ruangan atau tempat penyelenggaraan ujian. Kondisi demikian terjadi diduga terdapat pengkondisian pengisian Ujian dengan distribusi kunci jawaban.

Jika dianalisa dari kondisi yang di atas, siapa sebenarnya yang berkepentingan dengan Kebocoran soal ujian dan kepentingan apa yang terkandung di dalamnya. Berikut disajikan hasil analisa kasar terhadap kondisi tersebut.
  1. Pihak yang tidak menginginkan adanya siswa yang tidak lulus dari sekolah karena nilai Ujian di bawah standar kelulusan yang telah ditetapkan.
  2. Pihak yang menginginkan agar siswa lulusannya dapat lulus dan diterima pada seleksi Penerimaan Peserta Didik Baru di sekolah lanjutan.
  3. Pihak yang menginginkan ketercapaian nilai rata-rata Ujian tercapai sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
  4. Pihak yang menginginkan agar Sekolah, Dinas Pendidikan dan Pemerintah Penyelenggara Pendidikan mendapatkan predikat baik yang diukur dari ketercapaian nilai rata-rata Ujian karena dengan begitu akan berdampak lain terhadap kredibilitas lembaga dan pimpinannya.
Ketika ternyata banyak pihak yang menghendaki Kebocoran Soal Ujian, maka upaya untuk mendapatkan Bocoran Soal Ujian akan dilakukan sedemikian rupa dengan berbagai macam cara dan secara bersama-sama dalam sebuah sindikasi.

Akan tetapi, hal utama dari Kebocoran Soal Ujian yang terjadi selama ini adalah karena sebuah persepsi yang terbentuk bahwa UN atau USBN adalah: Pihak Lain yang sedang Menguji Siswa Kami. Sadar atau tidak, mau jujur atau tidak itulah yang terjadi.

Demikian sajian informasi mengenai Kepentingan Di Balik Dugaan Kebocoran Soal UN/USBN yang dapat disajikan pada kesempatan ini.

Semoga Bermanfaat !!!

Memahami Pengertian serta Perbedaan Belajar dan Pembelajaran

Memahami Pengertian serta Perbedaan Belajar dan Pembelajaran || Dalam proses pembelajaran dikenal dua istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah Belajar dan Pembelajaran. Kedua istilah ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

Untuk lebih Memahami Pengertian serta Perbedaan Belajar dan Pembelajaran berikut ini akan dipaparkan pengertian istilah – istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

A. Belajar

Belajar merupakan kegiatan yang dewasa ini semakin dirasakan peranan pentingnya oleh masyarakat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada pada individu. Sehingga belajar adakalanya dikatakan berhasil atau belum berhasil. Mengingat adanya tujuan yang ingin dicapai berupa perubahan pada tingkah laku ataupun yang lainnya seperti yang dikemukakan di atas.

Pendiri aliran teori belajar tingkah laku Torndike mengemukakan teorinya bahwa: “Belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan atau gerakan) dan respon (yang juga bisa berupa pikiran, perasan atau gerakan).” Ini menunjukkan bahwa belajar dapat dilakukan di mana saja dan kapanpun serta siapapun oleh mereka yang memiliki kemampuan menangkap stimulus. Maksudnya ialah memiliki akal untuk berfikir dan indra yang digunakan untuk menangkap stimulus.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memperoleh pengetahuan. Maksudnya ialah, setiap orang sangat kompleks dan unik,  tidak ada model gaya belajar yang dapatsepenuhnya menggambarkan siapa seseorang itu sebenarnya (setiap orang tidak hanya memiliki satu gaya belajar, namun ada gaya belajar yang dominan dalam diri seseorang tersebut). Banyak dari kita menerima informasi dengan cara yang berbeda, oleh karenanya gaya belajar kita sangat bermacammacam, kita mungkin mencoba berkomunikasi dengan orang lain dalam dua bahasa.

B. Pembelajaran

Agar ada pemahaman yang jelas, clear and distinct maka penting ditegaskan di sini pengertian belajar dan pembelajaran sehingga perbedaan keduanya dapat diketahui, baik secara teoritis dan praktisnya.
"Belajar merupakan aktivitas yang dilakukan sesorang atau peserta didik secara pribadi dan sepihak. Sementara pembelajaran itu melibatkan dua pihak yaitu guru dan peserta didik yang di dalamnya mengandung dua unsur sekaligus yaitu mengajar dan belajar (teaching and learning). Jadi pembelajaran telah mencakup belajar. Istilah pembelajaran merupakan perubahan istilah yang sebelumnya dikenal dengan istilah proses belajar mengajar (PBM) atau kegiatan belajar mengajar (KBM). "
Melalui definisi di atas, belum dapat menjelaskan bagaimana proses yang terjadi. Maka untuk mengetahui seutuhnya, harus diketahui terlebih dahulu apa itu pembelajaran atau pengajaran. “Pembelajaran dari kata dasar “belajar” yang mendapat imbuhan pe - an yang menunjukkan arti proses.” 
"Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction yang dalam bahasa yunani disebut instructus atau intruere yang berarti menyampaikan pikiran, dengan demikian arti instruksional adalahmenyampaikan pikiran atau ide yang telah diolah secara bermakna melalui pembelajaran."
Pengertian pembelajaran dijelaskan dalam UU Sisdiknas tahun 2003 Bab I pasal 1: “Pembelajaran merupakan proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.” Sehingga telah gamblang bahwa dalam proses interaksi tersebut ada empat komponen yang berperan pokok, yakni peserta didik,  pendidik, sumber belajar dan lingkungan belajar. Keterpaduan proses belajar siswa dengan proses mengajar guru sehingga terjadi interaksi belajar-mengajar (terjadi proses pengajaran) tidak datang begitu saja dan tidak dapat tumbuh tanpa pengaturan dan perencanaan yang seksama. Pengaturan sangat diperlukan terutama dalam menentukan komponen dan variabel yang harus ada dalam proses pengajaran tersebut. Perencanaan dimaksudkan merumuskan dan menetapkan interelasi sejumlah komponen dan variabel sehingga memungkinkan terselenggaranya pengajaran yang efektif.

Sebelum istilah pembelajaran populer, para penulis menggunakan istilah pengajaran. Karena ada perbedaan persepsi anatara istilah pembelajaran dan pengajaran. Praktek mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya lebih banyak berpusat pada guru, atau berkonotasi teacher centerd (berpusat pada guru). Dengan menggunakan istilah pembelajaran  diharapkan guru ingat tugasnya membelajarakan siswa. 

Demikian sajian informasi mengenai Pengertian serta Perbedaan Belajar dan Pembelajaran yang dapat disajikan pada kesempatan ini.

Semoga Bermanfaat !!!
Back To Top